Cerita 1 Tahun Fonya
![]() |
| Fonya si gadis ceria dan aktif saat di Day care. |
Saking sakitnya, istri saya teriak-teriak ampun. Sungguh sangat tidak tega saya melihat adegan yang tidak pernah saya lupakan seumur hidup tersebut. Dari kejadian itu, saya sangat rela jikalau surga anak memang disematkan Tuhan di kaki mamanya, bukan papanya (meski saya dulu dalam hati sempat protes).
Ya, tepat pukul 03.33 pm, hari Selasa tanggal 19 bulan November tahun 2024, seorang manusia perempuan putri kami keluar dari liang ibunya terisak menangis dengan keras. Dan, saya melihat langsung bagaimana dia meringsek berjuang keluar bersama dengan tangan istri saya menjambak rambut dan mencakar tangan saya.
Kecil tapi Melengking
Dalam tiga hentakan napas istri saya menghela, putri kami keluar beserta 4 saudaranya kalo kata orang Jawa, kakang kawah adi ari ari. Selang beberapa detik putri kami langsung terisak, lalu teriak menangis dengan keras dan melengking. Sungguh lega, terharu, tidak tega melihat istri masih kesakitan berpadu dalam satu perasaan sore itu.
Putri kami lahir dalam kondisi istri saya preklamsia, tekanan darah yang sangat tinggi. Sehingga putri kami harus segera dilahirkan. Alhamdulillah persalinannya lancar. Ia lahir dengan berat badan 2,2 kg dan tinggi 42 cm.Ya, tergolong kecil. Tapi tetap sangat beryukur karena ia lahir setelah 1 tahun kami menunggu
Seusai terlahir, putri kami terus menangis di bawah sinar inkubator yang memberinya sinar kehangatan. Terkadang ia menggeliat, menangis, mencecap, dan menggerakkan tangannya.
Di balik ruangan, Oma yang turut menunggu kelahiran putri kami turut mengungkap syukur. Ia turut terharu dan bangga karena lengkingan putri kami terdengar hingga ruang sebelah. "Jantungnya sehat berati," ungkap lirih Oma sembari tersenyum.
Sementara itu, saya masih tak percaya dan terbingung-bingung, bagaimana bisa keluar seorang manusia dari liang istri saya. Prosesnya terasa sangat cepat dan sulit diungkapkan bagaimana perasaan dan situasi saat itu. Sungguh keajaiban dari Sang Pencipta.
![]() |
| Fonya saat masih bayi. |
Seperti Roller Coaster
Seusai persalinan berakhir, sekira 3 hari, putri kami terindikasi kuning sehingga harus dirawat intens di ranjang inkubator. Sementara itu, istri saya diperbolehkan untuk pulang duluan kata rumah sakitnya.
Lah gimana konsepnya, kita lagi bahagia-bahagianya punya putri malah mau dipisah. Gimana ini konsep rumah sakitnya, woy. Sangat sedih. Sangat tidak terima.
Akhirnya untuk kebaikan dan kesehatan putri kami, saya dan istri terpaksa menuruti kata rumah sakitnya yang di luar nurul tersebut. Kami perjalanan pulang, belum sampai rumah, kami mendapatkan telepon dari rumah sakit. "Mas, putrinya sudah dibolehkan pulang," kata mereka dengan santai.
"Apaaaa?" jawab saya bingung dan ingin marah. "Lapo gak kat mau monyongggg," ungkap perasaan saya.
Dan, selanjutnya ada banyak momen suka duka yang membersamai kami hingga sang putri menapaki usia 1 tahun.
Doa Kami di Nadimu
Tak ada ungkapan yang lain selain syukur yang sangat banyak kepada Tuhan atas kisah yang luar biasa ini. Akhirnya kami mempunyai putri yang kami beri nama Falyona Fenoria Dedari. Anaknya ceria, suka tersenyum, sangat aktif, suka teriak, dan punya banya keinginan.
Doa terbaik akan selalu saya panjatkan kepada istri dan putri kami. Semoga selalu dilimpahkan berkah, kenikmatan, kemudahan, kesehatan, dan keselamatan. Masa satu tahun tidak terasa, tertutupi kisah-kisah pembelajaran yang luar biasa. Tabarakallah ya Fonya. Sesuai namamu. Selalu jadilah pelita dan cahaya untuk papa, mama, & keluarga. Amiin


Komentar
Posting Komentar
Salam kenal 😊 Terima kasih sudah berkomentar. Sering-sering mengecek postingan terbaru dari www.omahloretan.blogspot.com yaa 😊